Aksiku

Perjuangan

My Family

Pendidikan

Buruh Migran

Perjalanan

Galery Video




MIIRIIIIISSSSS......!!! Sebagai Rakyat tidak pernah merasa di rampok oleh penguasa pelaksana Negera atas nama Kepentingan Rakyat.. 

Rakyat dipaksa bayar pajak tetapi pajak bukan untuk kesejahteraan Rakyat,.. 
Kemudian Jaminan kesehatan Rakyat yang katanya sistim gotong royong ternyata rakyat hanya disuruh gotong royong membayar gaji petugas BPJS dan mendanai hobby bermain falas pejabatnya sehingga uang Rakyat raib milyaran, BPJS ada yang namanya penerima bantuan iuran, siapa merekapun tidak jelas... karena rakyat yg miskinpun ternyata lebih banyak yg menjadi peserta Mandiri dengan membayar iuran 25.000 sementara rakyat miskin PBI yg di bayar Pemerintah samar jumlahnya.. 

Kini perampokan kejam juga di lakukan PLN dan samasekali tidak pernah disadari oleh Pelanggan.. Dirut PLN dgn enteng menjawab bahwa potongan itu untuk membayar 1. Pajak PPJ 2306.. Aneh Pajak Penerangan jalan raya di bebankan biaya pada pelanggan,?? 2. Diambil administrasi oleh BRI 1600, Bukankan dana yang masuk ke BRI itu berbunga ?? kenapa biaya administrasinya di bebankan juga ke pelanggan ??... 

Sampai kapan Rakyat nerimo semua ini... membiarkan kedzoliman itu dosa gak sih ??? 
atau biarkan saja toh nanti di akherat akan mendapat balasan setimpal...??!!!

Nisma Abdullah, Warakawuri yang Memperjuangkan Nasib TKI

Nisma Abdullah, Warakawuri yang Memperjuangkan Nasib TKI
Ruhut Ambarita | Kamis, 09 Januari 2014 - 14:40 WIB
: 143


(SH/Muniroh)
Nisma Abdullah.
Waktu yang seharusnya dihabiskan bersama keluarga, digunakan untuk memperjuangkan nasib buruh migran

Usianya pada Januari ini tepat setengah abad. Bagi kebanyakan perempuan yang sudah berkeluarga di Indonesia, usia sebaya itu umumnya banyak dihabiskan bersama anak dan cucu.
Namun, tidak bagi Nisma Abdullah. Ia justru "menyerahkan" hidupnya untuk orang-orang yang mengalami nasib sama dengannya yang terjadi puluhan tahun silam.
Hari itu, ia memiliki agenda penting di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Ia bukan hakim, jaksa, ataupun pengacara.
Nisma dan beberapa rekannya hendak mendampingi puluhan pemuda yang mengajukan gugatan terhadap sebuah perusahaan yang perkaranya sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
"Ini kasus trafficking (perdagangan manusia). Namun, hari ini sidangnya ditunda. Kasus ini sudah berjalan satu tahun," kata Nisma ketika ditemui SH, Selasa (7/1). Sekitar satu tahun yang lalu, 156 pemuda menjadi korban perdagangan manusia dari sebuah perusahaan tambang.
Mereka dipekerjakan sebagai anak buah kapal (ABK), tetapi ditelantarkan perusahaan dan terdampar di Trinidad dan Tobago, sebuah pulau di kawasan Karibia. "Mereka telantar di atas kapal berbulan-bulan tanpa makanan. Mereka kemudian turun ke daratan dan ditangkap aparat setempat," katanya. Namun, hanya 56 ABK menggugat pemilik perusahaan itu.
Setiap hari, Nisma selalu berhadapan dengan persoalan-persoalan serupa yang dialami buruh. Wajar saja, karena Nisma kini menjabat sebagai Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), sebuah organisasi yang anggotanya buruh migran, atau kita sering mendengarnya dengan istilah tenaga kerja Indonesia (TKI).
Keterlibatan Nisma dalam organisasi buruh migran berawal di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Setelah mengakhiri kerja sebagai penata rambut di Kuwait pada 2003, Nisma mengumpulkan rekan-rekannya sesama buruh migran yang pernah bekerja di Arab Saudi dan Kuwait. Mereka membentuk kelompok yang dinamakan Forum Komunikasi Buruh Migran Sepakat.
"Saya membentuk kelompok itu awalnya untuk reunian saja. Tidak ada fokus atau rencana kelompok ini nantinya bakal menerima kasus atau melakukan advokasi. Kami hanya berkumpul sebulan sekali untuk sekadar memasak masakan Arab atau mengobrol pakai bahasa Arab," kata Nisma.
Namun, setelah terbentuk, ia dan rekan-rekannya justru menerima banyak permintaan bantuan dari keluarga buruh migran. Banyak keluarga buruh migran ingin mencari keberadaan anggota keluarganya yang sudah lama bekerja di luar negeri, tetapi tidak pernah ada kabar.
Istri Prajurit
Kisah Nisma menjadi seorang buruh migran bermula pada 1993. Saat itu, Nisma sudah berkeluarga dengan memiliki empat anak. Ia merupakan istri seorang prajurit marinir TNI Angkatan Laut berpangkat kopral. Suaminya pernah mengikuti Operasi Seroja di Timor-Timur sekitar 1970.
Gaji suaminya saat itu hanya sekitar Rp 125.000 per bulan. Meski sudah ditambah pendapatannya dari usaha salon dan berjualan kue, ternyata masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya saat itu.
"Apalagi, saya punya keinginan anak-anak nantinya bisa kuliah. Saya ingin, paling tidak ada, anak-anak saya bisa seperti anak-anak lainnya. Alasan itu yang memutuskan saya bekerja ke luar negeri. Saya kemudian pamit ke bapak (suami) untuk berangkat ke luar negeri," Nisma mengisahkan alasannya menjadi buruh migran.
Namun, tekadnya bekerja ke luar negeri tak mudah direalisasikan. Posisinya sebagai istri seorang prajurit aktif membuatnya dan suami harus mendapatkan restu dari Panglima ABRI. Meskipun begitu, izin pun belum tentu bisa diperoleh seandainya diajukan.
"Akhirnya, saya (nekat) memutuskan tidak minta izin panglima. Langsung berangkat saja. Namun, saya berangkat atas izin suami," ujar Nisma seraya tersenyum.
Sebetulnya, Nisma sangat berat meninggalkan suami dan keempat anaknya di Tanah Air. Apalagi, anak terakhirnya ketika itu masih berusia tiga tahun. "Masih nete (menyusui)," ujarnya.
Namun, kebutuhan hidup yang harus dipenuhi saat itu "memaksa" Nisma mengadu nasib di luar negeri. Ia berharap mendapatkan rezeki yang lebih banyak ketimbang yang didapat di Indonesia dari keahliannya sebagai penata rambut. Negara pertama tempatnya bekerja adalah Madinah, Arab Saudi.
Tiga tahun lamanya Nisma bekerja di Madinah. Namun, agensi pekerja di sana justru menyalurkannya sebagai pekerja rumah tangga, bukan sebagai penata rambut. "Majikan saya di sana itu Ketua (organisasi) Sepak Bola Madinah," ujarnya.
Tidak Manusiawi
Nisma mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi selama bekerja di Madinah. Perlakuan buruk juga ia dapat ketika bekerja selanjutnya di Kuwait. Majikan kerap memperlakukannya dan buruh migran yang lain dengan kasar.
"Hampir semua kawan-kawan pernah dilecehkan ketika bekerja di luar negeri," ujar Nisma. Tidak jarang, ia melanjutkan, pelecehan itu berujung pada pemerkosaan terhadap perempuan. Ia hampir menjadi salah satu korban pemerkosaan ketika bekerja di Kuwait.
Berdasarkan data dan laporan, kata Nisma, buruh migran Indonesia mendapatkan perlakuan sangat buruk ketika bekerja di negara-negara kawasan Timur Tengah dan Malaysia. Selain pelecehan dan kekerasan, ia melanjutkan, buruh migran Indonesia yang bekerja di kedua tempat itu sering kali menerima upah rendah, bahkan tidak dibayar sepeser pun.
Perlakuan buruk yang dialami buruh migran Indonesia terjadi akibat ketidaksiapan calon tenaga kerja untuk bekerja maupun beradaptasi. Banyak dari mereka yang tidak menguasai bahasa setempat.
Ketidaksiapan calon tenaga kerja Indonesia ini akibat tidak adanya tanggung jawab pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja yang profesional untuk bekerja di luar negeri. Selama ini, pemerintah hanya mau mengirim sebanyak-banyaknya tenaga kerja ke luar negeri tanpa memperhatikan kesiapannya.
Hal itu tercermin dari begitu gencarnya pemerintah menjaring warga untuk bekerja ke luar negeri, meskipun negara yang dituju tidak memiliki perjanjian kerja sama dengan Indonesia, contohnya Arab Saudi. Indonesia tidak memiliki perjanjian dengan Arab Saudi, tetapi pengiriman terbesar TKI ke negara itu.
"Padahal, dalam UU No 39/2004, pemerintah tidak boleh menempatkan buruh migran di negara yang tidak punya perjanjian dengan Indonesia. Bila dipaksakan, akhirnya tidak ada jaminan perlindungan terhadap buruh migran yang diberikan negara-negara tujuan penempatan," tuturnya.
Oleh karena itu, buruh migran harus bersatu memperjuangkan hak-haknya sehingga dijamin kelangsungan hidupnya saat bekerja di luar negeri. "Saya tidak rela apa yang terjadi pada saya di luar negeri juga akan dialami kawan-kawan lainnya," ujarnya.
Untuk itu pula, ia terus berjuang hingga kini. Baginya, jauh dari anak dan cucunya adalah sebuah risiko dari pilihannya. "Saya ingin mati dalam perjuangan," katanya.
Sumber : Sinar Harapan

Membuka Salon untuk Advokasi Buruh

Membuka Salon untuk Advokasi Buruh
Ruhut Ambarita | Kamis, 09 Januari 2014 - 17:38 WIB
: 64


(SH/Muniroh)
Nisma Abdullah
Uang yang didapatnya dari usaha sebagian digunakan untuk membiayai kegiatan organisasi.

JAKARTA - Hingga kini perlakuan buruk yang dialami ketika bekerja menjadi buruh migran di Madinah dan Kuwait masih terus menghantuinya setiap hari. Mulai dari pemukulan hingga hampir menjadi korban pemerkosaan pernah dia alami.

"Kalau lagi di jalan ketemu orang-orang berjanggut, tiba-tiba saya bisa takut. Saya takut kalau ketemu orang berjanggut," kata Nisma Abdullah, menceritakan trauma yang terus membayanginya hingga kini.

Nisma pernah bekerja sebagai buruh migran di Arab Saudi mulai 1993-1996. Satu tahun menganggur, Nisma kemudian terbang ke Kuwait. Di sana ia bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan penata rambut hingga tahun 2004.

Di balik kisah dukanya, Nisma juga memiliki kisah suka saat bekerja sebagai buruh migran. "Selama bekerja di luar negeri, saya sudah tiga kali naik haji," katanya, sambil tersenyum. Ia bersyukur dapat memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim.

Ketika pertama kali bekerja di negara orang, Nisma meninggalkan suami dan empat anaknya di Tanah Air. Anak terakhirnya saat itu masih berusia tiga tahun. Kini, bayi yang dia tinggal untuk mengadu nasib di negeri orang itu sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa.

"Saat ini dia bekerja sebagai sekretaris perusahaan Jepang di Jakarta," kata Nisma, membanggakan putrinya yang bernama Vinkan Ria Merlita Nuraini itu. Ketiga anaknya yang lain dari buah perkawinannya dengan Lexie Hengkie Pandeiroot kini sudah berkeluarga.

Mereka adalah Vemmy Maidita Nur Aisyiah yang tinggal bersama suaminya di Sulawesi dan berprofesi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah, Palu. Anak keduanya, Ficky Lemanda kini tinggal bersamanya di Kompleks Seroja, Bekasi.

Anak ketiganya, Ferry Mascup Lemaianda kini tinggal di Balikpapan. "Saya belum pernah melihat cucu saya di Kalimantan sejak dia lahir satu tahun lalu. Itu karena kesibukan saya mengurus kawan-kawan buruh migran," ujarnya.

Sebagai ketua umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Nisma memang memiliki jadwal yang sangat padat. Selain harus mengatur anggotanya, Nisma harus mendampingi kasus-kasus buruh migran.

Nisma kini memimpin 27.000 anggota SBMI yang tersebar di 13 provinsi dan 120 kabupaten/kota di Indonesia. "Belum lagi anggota SBMI yang ada di Hong Kong, Jeddah, Kuwait, dan Qatar," ujarnya.

Namun, kesibukan Nisma sebagai ketua organisasi buruh migran membuat anak-anaknya tidak suka. Anak-anaknya ingin Nisma berhenti menjalankan aktivitasnya sebagai aktivis buruh dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

"Mereka bilang saya ini sudah tua. Sudah waktunya main sama cucu. Mereka berharap saya ada di samping cucu-cucu. Saya akui memang belum tentu saya satu tahun sekali ketemu cucu. Bagi saya, saya ini bukan lagi milik keluarga, tetapi saya milik rakyat," katanya.

Selain memimpin organisasi buruh migran, Nisma kini juga mengelola usaha salon yang diberi nama "Buruh", dan tempat cuci mobil yang ditinggalkan suaminya yang meninggal dunia pada 2010.

"Lumayan ada penghasilan tambahan, Rp 100.000 (per hari) bisa dapat kalau lagi ramai," ujarnya. Namun, kata Nisma, uang yang didapatnya dari usaha sebagian digunakan untuk membiayai kegiatan organisasi.

Nisma menyadari keluarga juga membutuhkannya. Namun, ia sering kali memberikan pemahaman ke anak-anaknya bahwa ia memiliki tekad dan janji untuk membantu buruh migran yang sedang dirundung persoalan.

"Hati saya hanya ingin rakyat mendapatkan keadilan, khususnya buruh migran. Saya tidak rela apa yang terjadi pada saya di luar negeri juga akan dialami kawan-kawan lainnya," kata Nisma.

Sumber : Sinar Harapan

Buka Cucian Kendaraan, Ingin Dirikan Salon untuk Para Buruh Migran

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 September 2011

PENUH semangat. Itulah sosok Nisma Abdullah. Meski usianya tidak muda lagi, perempuan kelahiran Bunobogu, Buol, Sulawesi Tengah, 1965 itu begitu berapi-api saat bicara seputar buruh migran. Barangkali karena selain pernah mengalami kondisi yang tidak menyenangkan saat menjadi buruh migran di Timur Tengah, juga tak lepas dari aktivitasnya mendampingi dan memperjuangkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Apalagi perempuan yang dikaruniai 4 anak dan 4 cucu itu dipercaya sebagai ketua umum Dewan Pimpinan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) periode 2011-2014.
Kepada INDOPOS, kemarin (21/9), Nisma bercerita, saat menjadi buruh migran atau TKI di Arab Saudi pada 1993 hingga 1996, tak ada masalah yang berarti. ’’Saya bekerja ke Saudi, karena himpitan ekonomi. Ketika itu anak sudah empat. Suami saya tentara, cacat setelah bertugas di Timor Timur, tapi masih dinas di Jakarta. Dia mengizinkan saya ke Saudi,’’ ujar Nisma yang juga anak tentara itu.
Sebenarnya, Nisma mempunyai keterampilan menyalon. Namun, keahlian yang didapatkan dari kursus para istri tentara itu tidak dilanjutkan. Karena pendapatan yang dihasilkan tidak sesuai kebutuhan. ’’Akhirnya saya tinggalkan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Madinah, Saudi. Selama 3 tahun saya ikut satu majikan,’’ imbuh perempuan yang menyelesaikan SD di Bojonegoro, Jawa Timur, serta SMP dan SMA di Surabaya, Jawa Timur, karena mengikuti tugas orangtuanya.
Nisma yang menikah pada 1980 dengan pria asal Manado yang bertugas sebagai tentara di Surabaya itu menambahkan, setelah pulang ke Indonesia beberapa tahun kemudian, pada 1999 berangkat lagi Timur Tengah. Kali ini ke Kuwait. ’’Hasil dari Saudi di antaranya untuk merenovasi rumah,’’ imbuhnya. Sebelum merantau lagi, dia sempat kerja di salon di Tanjung Priok, Jakarta Utara, tapi tidak lama, karena gajinya tidak cukup untuk kebutuhan.
’’Padahal anak-anak membutuhkan biaya untuk pendidikan. Ada yang masuk SMP. Saya dapat informasi bahwa keluarga kerajaan Kuwait  membutuhkan perias. Saya daftar ke PJTKI. Ternyata, sesampai di sana, tidak demikian. Saya dipekerjakan sebagai tukang cuci pakaian bayi,’’ jelas Nisma yang beberapa waktu setelah menikah tinggal bersama keluarganya di Wisma Seroja, Harapan Jaya, Bekasi Utara, Jawa Barat, di mana rumah tersebut merupakan bentuk apresiasi yang diberikan pemerintah saat itu kepada suaminya yang pernah bertugas di Timor Timur.
Selama di Kuwait, Nisma pindah-pindah majikan. Ini karena pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan janji Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). ’’Di majikan pertama, saya hanya satu bulan. Majikan kedua, 1 minggu. Saya minta pulang, tapi tidak boleh. Suatu ketika, saya bisa telepon bos PJTKI yang memberangkatkan saya. Saya tagih janji kerja merias,’’ jelasnya.
Akhirnya dari agen yang di Kuwait, Nisma disalurkan ke majikan yang punya salon. Tapi kerjanya berat. Pukul 09.00—21.00 kerja di salon. Setelah itu hingga pukul 02.00, bekerja sebagai pembatu rumah tangga. ’’Saya pun berontak. Total dari pertama, selama 5 bulan, saya tidak pernah menerima gaji. Saya semakin tahu, akhirnya saya mengadu ke kedutaan. Orang kedutaan hanya bilang, sabar. Akhirnya kembali lagi ke agen, selanjutnya disalurkan ke majikan yang punya salon lagi. Di sini saya sampai 2003,’’ terangnya.
Hasil dari bekerja itu, Nisma ikut membantu menyekolahkan anak-anaknya.’’Yang pertama kuliah. Sekarang sudah mengajar. Tiga anak lainnya yang lulusan SMA, kini sudah bekerja. Saya memutuskan pulang, karena bapak sudah meninggal, sedangkan ibu sakit-sakitan. Saya ingin merawat ibu,’’ imbuh Nisma yang berpisah dengan suaminya pada 2003 itu.
Nisma mengenal dan mulai memahami apa buruh migran, apa hak-haknya, bagaimana perlindungannya, dan sebagainya, pada 2004. Dia pun aktif di berbagai organisasi yang memperjuangkan buruh migran. Salah satunya Forum Komunikasi Mantan Buruh Migran Sepakat, Aliansi Pemberdayaan, dan Perlindungan Buruh Migran Kabupaten Sumbawa, dan Niat Suci. ’’Organisasi Niat Suci merupakan jaringan LBH Apik Nusa Tenggara Barat. Ketika itu saya menetap di Sumbawa. Saya fokus di Sumbawa, karena termasuk pengirim TKI terbanyak. Dengan saya di sana, lebih fokus bekerja dengan teman-teman. Apalagi dulu saya pernah merasakan penderitaan sebagai buruh migran,’’ jelas perempuan yang pernah menakhodai SBMI Nusa Tenggara Barat tersebut.
Perempuan yang setelah terpilih menjadi  ketua umum Dewan Pimpinan SBMI periode 2011-2014 lebih memilih tinggal di Sekretariat SBMI daripada di rumahnya di Bekasi itu berharap, para TKI lebih paham hak-haknya.’’Tak hanya membantu keluarga, tapi juga pahlawan devisa bagi negara. Oleh karena itu, harus dilindungi dan selama di sana ada kontrol. Ini utamanya para buruh migran yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah. Supaya tidak banyak lagi yang pergi ke luar negeri sebagai TKI, pemerintah harus menciptakan lapangan kerja,’’ harap perempuan yang buka jasa cucian kendaraan di Bekasi yang dikelola oleh anak-anak yatim yang masih bersekolah.
Nisma yang kini tinggal di Jakarta mempunyai keinginan membuka salon.’’Saya punya kios di Bekasi, dekat rumah. Ingin cari modal untuk buka salon. Itu nanti untuk membantu para buruh migran. Ingin juga membangun koperasi bagi para buruh migran. Saya ingin tetap mengabdi untuk buruh migran sampai menutup mata,’’ pungkasnya. (zul)

Dulu PLRT, Sekarang Pengusaha Salon dan Rias Pengantin


| Print |
Sunday, 12 December 2010 06:39

Selain aktif mengurusi usaha, Nisma Abdullah juga aktif di SBMI Nusa Tenggara Barat, di Komisi Perlindungan TKI Sumbawa, Forum Komunikasi Buruh Migran Sumbawa, dan International Organization Migrant (IOM) perwakilan Nusa Tenggara Barat. Ia juga aktif menjadi pendamping calon TKI dan TKI yang mengalami masalah. Sedangkan dari usaha salon dan rias pengantin yang dilakoninya sekarang.

Dulu PLRT, Sekarang Pengusaha Salon dan Rias Pengantin

Sumbawa, BNP2TKI (11/12) – Menjadi pengusaha salon kecantikan dan rias pengantin, tidak terbayangkan dalam benak Nisma Abdullah semasa remaja.
Soalnya, antara pendidikan dan pekerjaan yang pernah dijalani semasa mudanya dulu dan di hari tuanya sekarang, bagaikan api jauh dari panggang. Sungguh bertolak belakang dan nyaris tidak pernah bersentuhan.
“Begitulah liku-liku perjalanan kehidupan saya. Setelah lulus dari SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) I Surabaya pada 1977, kemudian meneruskan ke SMEA Pawiyatan Surabaya dan lulus pada 1980. Setahun kemudian, pada 1981 menikah dan terus ikut suami menjalani tugas di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) sampai sekarang,” tutur Nisma Abdullah menceritakan masa lalu semasa suaminya masih aktif sebagai TNI dengan pangkat Kopral, Kamis (09/12) lalu.
Nisma, begitu Nisma Abdullah akrab disapa, menjelaskan, mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga dan dikaruniai empat anak dengan penghasilan suami yang hanya berpangkat kopral dirasa cukup sulit. Karenanya , setelah mendapatkan izin suaminya, pada 1993 ia nekat mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) bidang penata laksana rumah tangga (PLRT) di Arab Saudi.
“Sembilan tahun saya menjalani pekerjaan sebagai TKI ini. Tiga tahun (1993-1996) di Madinah, dan enam tahun (1997-2003) di Kuwait,” aku Nisma.
“Demi masa depan anak-anak, TKI bagi saya merupakan pilihan waktu itu,” tambahnya.
Menurut Nisma, TKI hanyalah sarana kerja untuk menabung yang kemudian dijadikan modal usaha di hari tua. Sebab itu, begitu kembali pulang ke kampung halamannya di Jalan Diponegoro 36 Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, NTB, pada tahun 2003, Nisma langsung melirik ketrampilan salon kecantikan dan rias pengantin sebagai ancang-ancang wirausahanya.
“Sejak itu, saya kemudian membuka usaha salon kecantikan dan rias pengantin setelah sebelumnya mengikuti kursus selama beberapa bulan,” kata Nisma yang sekarang hidup bersama empat anaknya sepeninggal suaminya pada pertengahan 2010 lalu.
Pendamping TKI
Kendati sudah tidak lagi menjadi TKI, namun ikatan batin Nisma dengan para calon TKI dan TKI purna di Kabupaten Sumbawa dan Nusa Tenggara Barat masih cukup kuat.
Dengan pengalaman yang dimiliki semasa menjadi TKI dulu, di sela-sela kesibukan mengurus usaha salonnya, ia juga aktif mendampingi para calon TKI dan TKI purna.
“Dari ketrampilan yang saya miliki ini, melalui ajang pelatihan-pelatihan calon TKI dan TKI purna saya selalu sampaikan dan berbagi pengalaman. Tujuan saya, agar mereka nantinya memiliki wawasan wirausaha dan bisa mandiri setelah tidak menjadi TKI lagi,” kata Nisma yang sejak tahun 2008 sampai sekarang menjadi Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Nusa Tenggara Barat.
Selain aktif mengurusi usaha, Nisma juga aktif di SBMI Nusa Tenggara Barat, di Komisi Perlindungan TKI Sumbawa, Forum Komunikasi Buruh Migran Sumbawa, dan International Organization Migrant (IOM) perwakilan Nusa Tenggara Barat.
Ia juga aktif menjadi pendamping calon TKI dan TKI yang mengalami masalah.Sedangkan dari usaha salon dan rias pengantin yang dilakoninya sekarang.
Nisma mengaku, rata-rata pendapatan perharinya sekitar Rp 200.000. “Ya, yang penting disyukuri dari usaha ini sudah bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan mencukupi biaya pendidikan anak-anak,” kata Nisma memungkasi cerita perjalan kehidupannya.***(Imam Bukhori)